Talk about being a leader

Selama hidup, kita punya tujuan yang ingin dicapai. Tujuan tak akan sukses diraih hanya dengan mengandalkan kemampuan diri sendiri saja. Kita butuh orang lain untuk mencapai tujuan kita karena setiap orang dilahirkan dengan kemampuan yang unik dan berbeda-beda. Kita harus kerja sama dengan orang lain agar bisa mengisi kekurangan kita. Jadi, kita butuh suatu tim yang saling kerja sama mencapai tujuan kita.

Namun, kerja dalam tim bukan hal yang mudah. Dalam tim,seringnya  kita diharuskan kerja sama dengan orang yang berbeda-beda, bahkan terkadang memiliki kepribadian yang bertolak belakang dengan kita. Kepribadian dan pemikiran yang berbeda antara satu orang dengan orang lainnya jadi suatu tantangan yang kadang jadi batu sandungan kita mencapai tujuan. Sakit hati, stres, pesimis, putus asa terkadang muncul akibat dari konflik dari perbedaan kepribadian itu. Hal itulah yang sering buat kita sebagai pemimpin cenderung memilih untuk membentuk tim dengan orang-orang yang “serupa dengan kita” karena takut akan terjadinya konflik akibat perbedaan kepribadian itu. Ya, dengan kata lain, kita memilih memimpin di zona nyaman.

Tapi apakah dengan memimpin di “zona nyaman” akan menjadikan kita pemimpin yang handal ?

Jawabannya tidak.

Memimpin orang-orang yang “serupa dengan kita” tak akan bisa meningkatkan kemampuan memimpin kita. Kita tak akan punya pengalaman dan kemampuan untuk mengerti dan memahami orang lain dengan kepribadian yang berbeda, mengesampingkan ego diri sendiri demi mencapai tujuan, dan kemampuan berkomunikasi yang baik dengan orang lain. Selain itu, kita juga tak akan belajar menyelesaikan konflik yang muncul dalam tim dan cara menghadapi orang dengan kepribadian tertentu. Jadi, kita harus berani memimpin di luar “zona nyaman” kita jika ingin terus mengasah kemampuan kepemimpinan kita dan menjadi pemimpin yang handal.

Selain berani memimpin di luar “zona nyaman” kita juga harus menambah pengalaman kita dalam memimpin suatu tim. Terkadang kegagalan atau konflik saat memimpin suatu tim membuat kita pesimis dan tak mau lagi menjadi pemimpin. Menurutku, Itu adalah suatu keputusan yang salah. Berbagai pengalaman memimpin akan melatih kita untuk menyempurnakan kemampuan kepemimpinan kita. Kita akan diberi kesempatan untuk terus belajar dan memperbaiki diri dari kesalahan yang pernah kita buat di proses kepemimpinan sebelumnya. Jadi, semakin banyak pengalaman kita maka semakin sempurnalah kemampuan kita.

Jadi, wahai pemimpin yang sedang dalam proses belajar memimpin, jangan pernah menyerah dengan konflik yang ada dalam tim mu. Fokuslah pada tujuan yang ingin kau capai. Jangan jadikan kegagalan memimpin sebelumnya menghentikan langkahmu untuk belajar menjadi pemimpin yang handal. Ingatlah bahwa semua adalah proses belajar yang akan membuat kita menjadi lebih baik lagi🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s