Take Your Time, Feel It, and Let It Go

121117

Beberapa waktu lalu aku mendapati satu kejadian yang membuat diriku sangat marah, sedih, dan depressed. Saat itu aku berusaha menjadi seorang yang kuat. Dan mengabaikan segala emosiku. Aku berusaha untuk membangun dinding tinggi untuk menghalangi kejadian itu mempengaruhiku.

Tapi sayangnya, caraku tidak berhasil. Aku tetap memutar kejadian itu berkali-kali, merasakan kemarahan dan kesedihan sepanjang hari. Aku merasakan sesak di dada yang begitu kuat dan membuatku sulit bernapas. Aku tidak mampu fokus mengerjakan apa yang harus aku lakukan.

I lost in my mind, my hidden emotions, my assumptions. I felt so bad at that time. I tried to suppress my emotions and made it as if I’m okay. But, I failed and made it more depressing.

Dan akhirnya aku menyerah kalah, membiarkan semua emosi itu merasuki diriku, menenggelamkanku. Aku memilih untuk menghadapi masalah itu dibandingkan kabur dan tidak menyelesaikannya. Meski sangat berat bagiku untuk berinisiatif mengajak untuk menyelesaikan masalah itu, padahal aku merasa hal itu terjadi bukan karena kesalahanku semata. My ego was holding me back then.

Tapi aku menyadari bahwa kedamaian, kenyamananku lebih aku butuhkan daripada egoku. Lagipula aku memilih menjadi orang baik yang melakukan hal baik. Tidak peduli bagaimana respon orang lain mau menerima/menolak/menetertawakan. Aku tidak peduli. Karena yang aku butuhkan adalah kedamaian untuk diriku sendiri. Aku pun berusaha berdamai dengan sumber masalahku dan untungnya dia mau menerimanya.

Tapi penderitaanku tidak serta merta hilang sekejap. Aku masih merasakan kemarahan dan kesedihan karena kejadian itu seperti film yang berputar terus-menerus di otakku. Aku bahkan hampir mengingat setiap kata yang terucap pada saat itu. I was over analyze that event. Make me up and down, continuously. I don’t have family members or friends to share it. Because I feel uncomfortable and don’t want to share it. I keep it by myself.

I had a hard time. Because that event smashed my body core, my self-concept.

Aku memutuskan untuk membiarkan emosi itu menenggalamkanku, membiarkan diriku merasakan sepenuhnya, membiarkan air mataku mengalir sesuka hatinya, membiarkanku berteriak sesuka hati. Aku membiarkan diriku ditemani lagu-lagu sedih, lagu-lagu penuh amarah yang malah membuatku makin sedih dan marah.

Tapi, ajaibnya. Aku merasakan kelegaan luar biasa. Rasanya emosiku sudah menguap sedikit demi sedikit. Rasanya lelah sekali dan aku bisa pergi tidur dengan nyenyak. Keesokan harinya aku masih mengingat kejadian itu, tapi aku merasa lebih tenang dan sesak didadaku sudah mulai berkurang.

Aku mulai berbicara pada diriku sendiri. Menjadi psikolog dan konselor bagi diriku sendiri. Aku mengajak my inner critic untuk bercakap-cakap in positive way.

I said to myself : “it is okay to make mistake, you will learn many things from it, forgive yourself. You are a great person, you’ve done something brave.”

That self-healing helped me a lot.

Lalu setelah cukup tenang, aku menghubungi teman-teman dekatku yang aku rasa sangat supportive. Bercanda dengan mereka hingga akhirnya curcol, hahaha. Tapi itu membuat aku lega. Aku merasa bisa kembali ke duniaku dengan lebih cepat dibandingkan aku menahannya dan kabur darinya.

Jadi ketika kamu menghadapi sebuah kejadian yang tidak menyenangkan : Hadapi, luapkan emosimu (secara aman), dan berani untuk menyelesaikannya.

Meski awalnya berat sekali, tapi rasa lega, tenang, dan damai akan datang menghampirimu. Jangan lupa memberikan counter-act your inner critics in positive and kind way.

Dan ini bisa diterapkan untuk orang-orang terdekat kita. Jika mereka marah atau sedih, jangan malah menyuruh mereka untuk menahannya, tapi bantulah mereka untuk merasakan dan meluapkannya dengan cara yang aman.

 

Iklan

Care Less and You’ll Be Stress Less

tumblr_n94y4oojef1qjm9bpo1_500.png

Dalam waktu yang lama, aku merupakan seorang yang sangat perfeksionis, terlalu detail melihat berbagai hal, terlalu memikirkan berbagai hal secara mendalam, dan sangat kritis terhadap diriku sendiri. Aku menyadari bahwa itu adalah bagian dari my personality traits, tapi aku tetap bersyukur memilikinya. Karena terkadang hal-hal itu sangat berguna di situasi tertentu.

Namun sayangnya, di banyak kesempatan, gift (personality traits) itu malah menyebabkan aku menjadi “mentally tired” atau lelah secara mental. Meski tubuh secara fisik sehat atau tidak berpenyakit. Tapi karena kondisi “mentally tired” itu, fisik yang sebenarnya sehat, malah terasa seperti orang sakit. Padahal sebenarnya tidak ada penyakit fisik yang aku derita.

Salah satu problem psikologis yang aku sempat rasakan adalah ansietas (kecemasan).  Sebenarnya kecemasan ringan itu cukup bagus bagi kita, karena membuat kita lebih siap siaga terhadap situasi yang akan terjadi. Tapi, kecemasanku ini bukanlah kecemasan biasa. Kecemasan ini telah menimbulkan gejala fisik seperti sakit kepala, ketegangan otot, sulit tidur, sulit konsentrasi, dsb. Dan ini sangat mengganggu.

Selain itu, kecemasan ini juga berdampak pada kehidupanku. Aku berubah menjadi seorang yang sangat takut untuk melakukan suatu hal, meskipun hal itu adalah yang aku suka dan inginkan. Aku terlalu takut dengan tanggapan orang lain terhadap diriku dan tindakanku. Hal itu membuatku tidak bisa berkembang dan takut mencoba hal baru. Padahal dengan mencoba hal baru kita bisa mengeksplor potensi-potensi kita.

Tapi sekarang sedikit demi sedikit kecemasanku mulai berkurang, meski belum hilang sepenuhnya. Aku percaya semua hal perlu proses, yang bisa saja berjalan perlahan tapi pasti (slow but sure). Dan aku menemukan obat dari kecemasanku ini bukanlah “obat” yang nyata kita minum seperti saat kita flu atau demam.

Tapi obatnya adalah perubahan mindset atau pemikiran kita.

Diawali dengan mindset bahwa “Aku adalah tidak tetap”

Dengan modal mindset ini, kita mulai merasa memiliki harapan terhadap diri kita. Awalnya kita putus asa, karena semua hal yang menjadikan kita buruk adalah sudah jadi kepribadian kita. Padahal, sebenarnya apa yang ada dalam diri kita itu tidak tetap dan merupakan hasil dari proses hidup yang kita lalui selama ini. Jadi belum tentu kamu saat ini adalah kamu yang sama saat dimasa depan. Bisa saja kamu berubah memiliki kepribadian yang lebih baik atau lebih buruk.

Kamu harus percaya bahwa kamu bisa berubah jadi lebih baik. All your personality problem that you have, you can manage/decrease it !

Nah, karena di awal aku menyebutkan tentang kecemasan. Inilah mindsetku sekarang untuk mengurangi kecemasan yang aku rasakan sudah berdampak buruk bagiku.

Ketika kamu melakukan suatu hal, tidak perlu takut dengan respon orang lain. Mereka terlalu sibuk memperhatikan dirinya sendiri, dan tidak terlalu peduli apa yang kamu lakukan. Seperti kamu yang terlalu sibuk memperhatikan dirimu sendiri dan tidak terlalu peduli dengan apa yang dilakukan orang lain. Kalaupun mereka merespon, percayalah bahwa selalu ada dua sisi opini yaitu opini positif dan negatif. Apapun yang kamu lakukan, meskipun itu adalah suatu kebaikan, pastilah ada respon positif dan negatif.

Hasil gambar untuk people opinion

Yang harus kamu lakukan adalah, jika memang kamu percaya itu adalah hal baik, fokuslah pada opini positif dan terimalah opini negatif dengan lapang dada. Ambillah hal-hal yang mungkin bisa menjadikanmu lebih baik.

Tapi pada dasarnya kita tidak benar-benar tahu apa respon orang lain, terutama yang memilih menjadi “silent people”. Mereka diam belum tentu menolak atau menerima. Malah terkadang, suara-suara yang berasal dari pikiran kita sendirilah yang berkata hal-hal negatif tentang apa yang kita lakukan. Dan suara pikiran itu bergantung pada konsep diri dan mindset kita. Jika konsep diri kita negatif, suara pikiran itu akan cenderung ke arah negatif. Padahal sebenarnya belum tentu juga opini orang lain banyak yang negatif.

Maka penting bagi kita untuk mendapatkan “bukti”. Jika kamu berpikir bahwa apa yang kamu lakukan baik/buruk, tanyakan pada mereka (lebih tepatnya pada sahabat-sahabatmu, karena mereka akan bicara secara jujur).

Hasil gambar untuk prove

Jika tidak ada bukti, maka jangan percaya. Itu hanyalah suara-suara dalam pikiranmu saja.

Lagipula, orang lain juga akan melupakan apa yang kamu lakukan. Karena bagi mereka itu tidak penting. Kamu juga berfikir seperti itu kan dengan apa yang dilakukan orang lain.

Jadi bangunlah mindset dan konsep diri yang positif. Jangan lakukan apa yang kamu lakukan untuk mendapatkan imbalan/tanggapan orang lain. Lakukanlah untuk dirimu sendiri sehingga tidak perlu terlalu pusing dengan tanggapan orang lain.

Hasil gambar untuk positive mindset

Care Less and You’ll be Stress Less

Mindset kita akan selalu berkembang seiring dengan bertambahnya pengalaman hidup kita. Tapi satu hal yang harus kamu lakukan.

Berjanjilah untuk selalu berproses menjadi lebih baik 🙂

Berjanjilah, bahwa kamu akan selalu berproses jadi lebih baik

Kamu adalah “tidak tetap” sebuah karya yang terus berkembang

Tidak terasa saat ini usia sudah 24 tahun. Dan alhamdulillah, perjalanan untuk mencari jawaban tentang pertanyaan “apa tujuan kamu hidup di dunia ini” sudah mulai terang dan petunjuk demi petunjuk sudah tampak. Meski masih berupa titik kecil yang belum jelas polanya. Aku akan terus mencari dan berjuang untuk menemukannya.

Di usia 24 tahun ini, berkali-kali aku menengok kebelakang dan bertanya “apa saja perubahan yang sudah terjadi dalam diriku ?”. Dan ketika aku menemukan dan menyadarinya, aku mulai tersenyum. Karena jawabannya adalah “banyak, banyak sekali, kamu berkembang! :)”. Lega rasanya.

Perubahan-perubahan, meskipun kecil yang terjadi sepanjang perjalanan 24 tahun hidup ini, aku sangat mengakui dan menghargainya. Itu adalah bentuk apresiasiku terhadap diriku sendiri. Karena menurutku, aku telah lebih baik daripada aku yang kemarin. Dan itu suatu prestasi !

Padahal dulu, aku menganggap bahwa diriku akan tetap menjadi diriku yang dulu yang tidak akan bisa berubah bagaimanapun. Dan itu membuatku cukup merasa putus asa dengan masa depanku.

Perubahan hebat yang aku alami salah satunya adalah mindset. Dan menurutku itu adalah hal yang terpenting. Karena mindset yang akan mempengaruhi tindakan dan perasaanmu terhadap suatu situasi.

Aku menyadari bahwa perubahan-perubahan itu tidak gratis. Ada banyak kejadian dalam hidupku yang membantuku mencapai titik mindset saat ini. Dan bisa dikatakan, tidak semuanya adalah peristiwa yang membahagiakan. Tapi ketika berada di titik ini, rasanya ingin bersyukur tanpa henti pada Allah, karena sudah menempatkanku pada situasi itu. Sehingga aku bisa memiliki mindset seperti saat ini.

 

 

 

 

AKU

IMG20170910132914
Aku adalah wanita yang luar biasa dan memiliki banyak potensi.
Aku hanya harus menyadarinya, mengasah, mengembangkan, dan tidak malu menunjukannya pada orang lain.
Aku hanya harus percaya pada kemampuan diriku sendiri, menyayangi, dan menghargai diriku sendiri.
Aku memiliki caraku sendiri untuk berkontribusi pada dunia.
Aku akan melakukan hal yang aku yakini benar dan harus dilakukan.
Aku akan bertransformasi menjadi seorang Lovable Lady yang mempesona.
Bukan karena ingin menarik orang lain untuk mendekat padaku, tapi untuk membuat diriku sendiri bahagia.
Karena hal utama yang aku pedulikan di dunia ini adalah kebahagiaanku.
Hidupku adalah pilihan dan tanggung jawabku.
Jika aku ingin berpenampilan menarik, itu semata-mata untuk membuat diriku sendiri percaya diri dan bahagia, bukan untuk menarik perhatian orang lain.
Jika aku ingin berbuat baik, itu semata-mata untuk membuat diriku bahagia, bukan untuk mendapat sanjungan orang lain.
Jika aku ingin memperbaiki diri, itu semata-mata untuk membuat diriku menjadi pribadi yang lebih baik, bukan untuk pantas dengan orang lain.
Jika aku ingin memilih pasangan, itu semata-mata karena aku merasa cukup dan ingin berbagi apa yang aku miliki,
Dan bukan karena aku kesepian, butuh tempat bergantung, atau merasa perlu pelengkap.
Semua yang aku lakukan semata-mata untuk kebahagiaan diriku sendiri, bukan untuk orang lain.
Dan aku tidak akan mengijinkan orang lain memiliki kontrol terhadap diriku. Karena diriku adalah milikku sendiri.
Bahagia atau sedih, aku yang tentukan.
Aku menyayangi, menghargai, dan bangga dengan diriku sendiri
Depok, 2 November 2017
Very Soon to be a Lovable Lady

Turn 24

dollarphotoclub_80362106

Sebelum mencapai usia 24 di tahun ini, aku sering tidak memperdulikan atau pura-pura lupa hari ulang tahun sendiri. Menjadikannya suatu hari yang tidak spesial dan biasa saja. Bukan karena aku memang tidak peduli, tapi karena aku sering kecewa sendiri. Kecewa karena tidak ada yang ingat, tidak ada yang memberi surprise, atau memberi hadiah. Ya, aku memang tipe individualis yang tidak memiliki teman sebaya (aka geng) yang akan merayakan bersama setiap hari ulang tahun anggota gengnya dan bertukar hadiah.

Pernah dulu diberi ucapan oleh teman seangkatan di grup angkatan. Tapi akhirnya tetap mengecewakan. Gara-gara yang pertama kali menuliskan ucapan salah tulis nama, akhirnya yang dikira ulang tahun dan diberi ucapan selamat adalah teman lain yang nama panggilannya beda satu huruf akhiran denganku. Kecewa pasti. Tapi itu dulu, sebelum menginjak usia 24 tahun ini.

Semakin dewasa aku semakin menyadari bahwa ada hal lain yang lebih penting dan bermakna dibandingkan surprise atau kado dari orang lain. Pertama adalah momen refleksi diri sendiri. Tentang apa yang sudah dicapai selama 24 tahun ini. Bukan hanya soal momen-momen besar seperti berhasil lulus kuliah atau prestasi lainnya. Tapi juga soal hal abstrak seperti kedewasaan dalam mindset, bagaimana kita menerima diri sendiri dengan segala kelebihan dan kelemahan kita, bagaimana kita menemukan potensi-potensi diri dan berani mengusahakannya, bagaimana kita tidak mudah baper dengan apa kata orang, maupun bagaimana kita mengelola diri agar tidak marah pada suatu hal berlama-lama. Semua itu prestasi diri sendiri yang harus diapresiasi sama besarnya dengan prestasi non abstrak kita.

Apresiasi internal (oleh diri sendiri) yang sederhana seperti menyadari bahwa diri sendiri adalah sosok yang luar biasa, unik, punya berbagai potensi, dan cukup baik menurutku lebih bermakna dibandingkan selebrasi hari ulang tahun yang diberikan oleh orang lain.

Lagipula bagiku, ucapan selamat dan doa dari orang terdekat kita yang tulus (orang tua, saudara, sahabat dekat) itu lebih bermakna dan cukup dibandingkan kado yang diberikan karena merasa tidak enak hati atau malu jika tidak membalas kado yang dulu pernah kita berikan padanya. Atau ucapan ramai-ramai dari satu angkatan yang hanya sebagai basa-basi saja atau bahkan kurang effort seperti copas chat sebelumnya. Banyak sih yang memberi ucapan, tapi tidak terasa ketulusannya.

So, selebrasi ulang tahun yang terpenting adalah dari diri sendiri dan terhadap diri sendiri (internal celebration)

Bukan karena aku makhluk menyedihkan yang tidak punya banyak teman untuk ikut merayakan hari spesial ini, tapi aku punya caraku sendiri menjadikan momen ini bermakna tanpa harus melibatkan orang lain. I have my own way to be happy in this special day for my self.

Lagipula, aku punya keyakinan bahwa kebahagiaan yang kita rasakan itu berasal dari mindset kita sendiri. Bukan dari apa yang orang lain atau situasi berikan pada kita. Kita yang berperan dalam menentukan apakah kita ingin bahagia atau tidak hari ini. Penerimaan diri sendiri lebih penting daripada penerimaan orang lain.

To me, happy birthday, happy 24 years old, you’ve changed a lot, you are great, you are amazing, you deserve to go to next step of maturity. Congratulation! 🙂

happy-birthday-cupcake-1080x720

 

Pilih Kerja Di Mana ?

Hidup akan selalu menghadapkan diri kita pada pilihan dan keputusan saat kita sampai di depan tangga “naik level selanjutnya”.

ChasingMoney

Setelah kita dinyatakan LULUS dalam pendidikan formal, kita tidak akan dibiarkan berlama-lama dalam euforia. Kita  akan segera diminta untuk menentukan pilihan. Dalam masa ini, pilihan yang harus segera kita putuskan adalah pilihan dalam memilih pekerjaan/karir atau bahasa filosofisnya adalah menerapkan ilmu yang kita sudah dapat di bangku kuliah. Ya, termasuk mau dibawa kemana hidup kita selanjutnya setelah menyelesaikan satu tahap dalam proses kehidupan. Ingin maju ke level selanjutnya atau tetap tinggal. Semua memiliki konsekuensi masing-masing. Semua butuh keputusan untuk memilih.

Bagi kita yang merupakan seorang fresh graduate, memilih tempat kerja sama memusingkannya dengan saat kita memilih jurusan kuliah dulu. Ada begitu banyak pilihan, sangat beragam, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, serta prospek masa depan yang berbeda-beda. Karena saat ini, hal itulah yang aku sedang galaukan, jadi aku akan membahasnya dalam tulisan ini.

Beberapa waktu yang lalu saat bertemu teman-teman satu angkatan pasca kelulusan , topik pembicaraan bukan lagi “udah sidang, belum?” tapi, “udah ngelamar kerja dimana?”, “rumah sakit A gajinya gede lho!”, “rumah sakit B gajinya standar tapi udah berdiri bertahun-tahun bagus buat cari pengalaman”, “kalo rumah sakit C itu impianku karena sesuai bidang peminatanku”. Fenomena itu cukup menarik menurutku. Jadi, aku akan bahas dalam tulisanku kali ini.

Pilih mana ? tempat kerja dengan gaji tinggi atau yang lebih memberikan peluang untuk mengembangkan diri ?.

Ya, kalau boleh hati memilih, inginnya hati adalah tempat kerja dengan gaji tinggi plus memberikan peluang untuk mengembangkan diri :p. Aku juga mau kalau itu! Hehehe.

Tapi sayangnya, hidup tidak selalu memberikan kita sesuatu yang lengkap dan sempurna seperti itu. Ada kelebihan, pasti ada juga kekurangannya.

Terus, harus pilih yang mana ?

Tidak ada jawaban benar dan salah menurutku. Semuanya tergantung!. Tergantung tujuan hidup kita, kondisi kita, dan mungkin berbagai faktor kompleks lainnya. Kalau pesan dosen yang aku hormati dan kagumi padaku dan teman-temanku (fresh graduate muda yang belum punya pengalaman kerja) setelah selesai konsul karya tulis akhir adalah “Pilihlah pekerjaan yang disana kalian bisa berkembang”. Let’s see, are you agree with that ? 🙂

Apa tujuanmu bekerja ? 

Mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing. Apa ya tujuan kita bekerja?. Bekerja untuk bermanfaat untuk orang lain? memenuhi kebutuhan finansial? keduanya? atau lainnya (misalnya cari jodoh :p). Advice selanjutnya akan bergantung pada pilihan kita.

Kalau aku sendiri termasuk idealist group yang menganggap bekerja atau berkarir itu tujuan utamanya adalah memberikan makna dalam kehidupan. Bekerja sebagai seorang perawat itu adalah pekerjaan yang aku harapkan bisa memberikan makna melalui manfaat yang aku berikan pada orang lain. Karena hal itu berkaitan dengan tujuan hidupku secara umum yang ingin membuat hidupku didunia ini bermakna positif untuk orang-orang disekitarku. Ya, itu jawabanku. Mungkin akan berbeda dengan jawaban kalian. Karena setiap orang punya tujuan atau orientasi hidup yang berbeda-beda.

Mungkin saat ini ada yang menganggap aku terlalu naif. gak realistis, belum tahu tentang kerasnya kehidupan. Ya, kembali lagi itu adalah keyakinanku saat ini. Mungkin saja kalian benar dan aku akan berubah haluan menjadi berorientasi kerja untuk memenuhi kebutuhan finansial. Mungkin saja aku akan tetap teguh dengan keyakinanku ini. Siapa yang tahu keyakinan apa yang akan kita yakini di masa depan. Karena setiap pengalaman yang kita dapatkan selama perjalanan kehidupan akan mempengaruhi nilai-nilai kehidupan yang kita yakini. Tapi kembali lagi, ini adalah yang aku yakini saat ini.

Kenapa begitu idealis ? Sok banget! bilang kerja untuk memberikan makna pada kehidupan !.

Me: Sabar…sabar. I have my answer for that 🙂

Beberapa tahun yang lalu aku bukanlah orang yang cukup bijak dalam hal finansial. Kasarnya, bodo amat dengan masalah keuangan. Karena merasa semua kebutuhan terpenuhi dengan transferan orang tua juga beasiswa kuliah. Aku juga punya gaya hidup yang sangat boros pada saat itu. Menghabiskan uang yang aku punya untuk berbelanja dan jajan tanpa memikirkan berapa banyak uang yang aku keluarkan. Hingga suatu hari, saat aku benar-benar butuh membayar biaya kuliah, sementara orang tuaku belum punya uang. Akupun bingung dan panik sendiri. Untungnya, Allah memberikan jalanNya sehingga aku tidak perlu terlambat bayar kuliah.

Dari kejadian itu aku jadi bertanya-tanya. Sepertinya dulu aku punya banyak uang, tapi kok “gak ada rasanya” ya. Habis begitu saja saat digunakan untuk berbelanja dan jajan. Sekarang udah “gak ada rasanya” lagi. Semenjak itupun aku mulai “melek finansial” dan mengatur keuanganku. Meskipun tidak banyak lagi pemasukan yang aku dapatkan, tapi dengan mengatur keuanganku, aku jadi punya tabungan dan bisa mencapai beberapa keinginanku dengan semua itu. Dari itu akhirnya aku menyimpulkan bahwa pemasukan/gaji besar belum tentu menjanjikan bahwa seluruh kebutuhan hidup kita akan terpenuhi. Buktinya saat aku mendapatkan pemasukan besar, malah aku kebingungan karena tak punya uang cadangan untuk bayar kuliah. Sementara saat pemasukanku tidak terlalu besar, aku mampu menabung dan memenuhi kebutuhanku. Aku berkesimpulan bahwa:

Gaji besar tanpa kemampuan mengatur keuangan yang baik dan gaya hidup yang sesuai akan tetap membuat hidup kita selalu merasa kekurangan.

Dan itu mungkin menjawab, kenapa orang yang kaya raya tetap mengeluh pendapatannya kurang dan terus-menerus berusaha mati-matian untuk mendapatkan sumber pendapatan yang lebih besar. Hingga terkadang menjerumuskannya untuk melakukan tindakan kriminal seperti menipu, korupsi, terlilit hutang sana-sini. Karena kebanyakan mereka secara tidak sadar akan melakukan tindakan yang menggambarkan bahwa

Peningkatan pendapatan berbanding lurus dengan peningkatan gaya hidup.

Yang dulunya makan dengan nasi+tempe+tahu sudah cukup kenyang, sekarang saat jadi orang kaya, rasanya gak sreg kalau nggak makan di restoran mewah. Yang dulunya beli baju cuma pilih yang nyaman, sekarang, kalau bukan dari brand mewah, rasanya kok malu. Dan percayalah, hal seperti itu akan terus-menerus terjadi dan tidak ada batasnya.

Intinya adalah jika mengejar kepuasan materi atau uang tidak akan ada habisnya.

Dan saat uang kita habis, tidak akan ada rasanya. Makanan mahal hanya akan memberikan kenikmatan singkat lalu hilang saat kita telan. Baju mewah juga hanya akan memberikan kenimatan singkat saat beberapa hari memakainya, setelah itu akan terlupakan saat kita menumpuknya di lemari pakaian.

Tapi akan beda rasanya kalau kita mengejar kepuasan batin dan makna hidup. Saat kita bekerja untuk memberikan manfaat pada orang lain, rasanya tidak akan sia-sia. Ada kepuasan batin yang tak bisa digambarkan dengan kata-kata saat merasakan bahwa diri kita, hidup kita di dunia ini berpengaruh, bermanfaat pada hidup orang lain. Meskipun orang lain tidak menyadarinya dan mengucapkan terima kasih. Tapi, Tuhan tahu dan Dia akan mencatat kebaikan kita di buku amal yang akan menyelamatkan diri kita saat di akhirat nanti. Mungkin akan beda pencatatannya saat kita bekerja hanya untuk mendapatkan gaji dan membeli rumah mewah. Hidup kita hanya untuk diri kita dan tidak ada maknanya untuk orang disekitar kita. Itu pendapatku 🙂

So, kalau aku akan memilih pekerjaan yang bisa memberikan peluang pengembangan karir. Dimana saat karir berkembang, kita bisa semakin ahli dalam bidang tertentu, punya posisi yang cukup penting. Harapannya, pekerjaanku bisa memberikan manfaat yang lebih besar untuk orang lain. Tapi perlu diingat lagi bahwa posisi tinggi dalam pekerjaan belum tentu memberikan kemaknaan hidup yang lebih besar juga. Paling tidak, itu menciptakan peluang untuk kita bisa membantu lebih leluasa.

Lagipula ya, sebagai seorang fresh graduate yang masih muda, belum memiliki pengalaman kerja, masih lajang lagi, untuk apa kita menargetkan punya gaji besar untuk saat ini?. Ingin segera punya mobil pribadi? rumah pribadi? atau jadi yang selalu fashionable?. Be patient, dear ! :). Ada kok masanya kita akan memiliki semua itu. Tapi kalau kompetensi kerja kita disitu-situ saja bagaimana bisa maju dan mengembangkan karir juga membuka pintu rejeki yang lebih besar ?. Tempat kerja kita pasti akan mengapresiasi kita (misal dengan gaji) sesuai dengan kompetensi yang kita miliki.

Dan kalian juga perlu tahu bahwa gaji besar itu sebanding dengan beban pekerjaan yang dipikul. Beberapa waktu lalu aku pernah ngobrol dengan seorang teman senior yang baru saja pindah kerja ke tempat yang cukup populer untuk melamar atau pindah kerja karena memberikan gaji yang besar. Saat aku bertanya, bagaimana rasanya kerja disana?. Dia bilang bahwa itu sesuai dengan beban pekerjaannya yang juga cukup berat. So, gaji besar sebanding dengan beban kerja.

Siap dapat gaji besar, siap juga dengan beban kerjanya nggak ? :p

That’s all what I think

Semua pilihan bergantung diri kita masing-masing. Nggak ada yang salah dan benar, semuanya relatif. Mungkin pendapatku di tulisan ini tidak akan cocok dengan kalian yang punya keyakinan yang berbeda atau kondisi yang berbeda denganku. Mungkin ada dari kalian yang memiliki tujuan hidup untuk menjadi orang yang kaya raya, atau sedang dilanda krisis keuangan yang membutuhkan banyak uang segera. Kita punya situasi dan kondisi yang berbeda saat berada di depan tangga “naik level selanjutnya”.

Pilihan apapun yang kalian ambil, pastikanlah itu adalah pilihan yang kalian buat sendiri bukan dipaksakan orang lain. Karena jalan hidup kita adalah miliki kita sendiri, bukan orang lain. Kita yang akan berjuang di jalan hidup yang kita pilih dengan segala suka dan dukanya.

Fighting! For Your Upcoming Job! 🙂

 

 

September 2017: Bulan Baper

Hasil gambar untuk marriage islam

Entah kenapa bulan September ini banyak sekali yang akhirnya sah menggandeng pasangan hidupnya. Mulai dari saudara sepupu yang udah kayak best friend sendiri, temen-temen deket satu angkatan, bahkan artis idola yang lagi hits. Seneng banget melihat mereka akhirnya udah nggak pusing lagi mikirin “siapa jodoh gue?”. Tapi disisi lain, momen-momen ini juga bikin baper mereka yang masih “gak jelas” jodohnya, terutama mereka yang memilih menanti tanpa ditemani, termasuk diri sendiri. Setiap galau hal beginian pasti larinya ke ceramah-ceramah atau quotes-quotes tentang jomblo yang sebenarnya udah ratusan kali kita dengar, baca, dan sudah pahami. Tapi kita selalu melakukannya lagi dan lagi untuk memberikan diri kita motivasi dan ketenangan lagi dan lagi. Sebenarnya intinya sama, “sudah sabar saja, semua indah pada waktunya”, “isilah hari-hari menantimu dengan mempersiapkan dan memperbaiki diri (terutama untuk wanita)”. Tapi memang pesan-pesan itu tepat sekali. Tapi memang sangat sulit di praktekan. Itulah mengapa pesan-pesan tentang cinta selalu banyak dibaca, didengarkan, dan dibagikan. Karena banyak yang merasakan hal yang sama (Oke, paling tidak aku tidak sendirian).

Setiap orang berbeda-beda. Setiap orang menjalani hidup dengan jalan dan tingkat yang berbeda-beda. Ada yang lulus SMA sudah direstui menikah, ada yang harus tunggu lulus kuliah, ada juga yang sudah lulus kuliah harus tunggu dapat pekerjaan dan mandiri. Ada yang direstui dengan siapapun yang datang melamar, ada yang harus nunggu calonnya lulus kuliah, ada yang harus nunggu calonnya untuk diangkat jadi karyawan tetap. Setiap orang punya jalan berbeda-beda, jadi nggak masalah kan kalau menikahnya di usia yang berbeda-beda. Bukan berarti yang menikah duluan itu paling siap dan paling baik. Bukan berarti yang menikah belakangan itu nggak ada niat dan nggak pernah menyiapkan diri. Mereka memiliki syarat dan pilihan masing-masing.

Hal yang terpenting dan selalu jadi solusi dari semua kegalauan tentang menanti jodoh adalah menantilah sambil berproses untuk memantaskan diri. Pesan ini sangat benar, sudah bosan kita dengar dimana-mana, dan sayangnya sering di-iya-in aja. Ya, memang sangat berat. Kita diminta untuk meredam keinginan dan bekerja dalam ikhtiar. Bukankah manusia sukanya diberi tanpa berusaha ?. Mungkin meski kita tidak berusaha, jodoh akan tetap datang pada waktunya karena memang sudah ada dalam takdir kita. Tapi pasti ada bedanya, orang yang berusaha dan tidak berusaha. Entah dari karakteristik calon yang didapatkannya maupun kesiapannya dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan segala ujiannya. Iya, rumah tangga itu penuh ujian. Bukan karena kita sudah sah dan hidup berpasangan lalu hidup kita bahagia sepanjang waktu dibandingkan hari-hari saat sendiri. Bahkan mungkin hari-hari kita semakin berat dan membosankan. Suka dan duka dalam pernikahan, semua itu ada dalam pilihan.

Dari berproses dalam mempersiapkan diri itu kita akan belajar dan terus belajar. Tidak hanya menyiapkan tentang materi (seperti yang banyak orang pikir dan lakukan), tapi juga menyiapkan ilmu, serta mindset. Menurutku, ilmu dan mindset itu satu tingkat lebih penting dari materi. Karena kedua hal itulah yang akan membawa kita mendapatkan pernikahan yang bahagia dan finish di surga Allah atau terperangkap dalam pernikahan yang hanya menghancurkan jiwa dan sisa hidup kita di dunia. Hal yang paling aku pegang dalam hidup adalah bahwa mindset adalah penentu apakah kita berpikir hidup kita bahagia atau tidak. Walaupun sudah menikah jika mindset kita masih negative, meski memiliki kehidupan sempurna jika dilihat orang lain, tapi kita tidak akan pernah merasa bahagia. Sebaliknya, seorang single yang memiliki mindset positif, meski dia belum berpasangan, hidupnya akan tetap bahagia baik dari sudut pandangnya maupun sudut pandang orang lain. Tapi kita juga perlu tahu, belajar dalam memantaskan diri itu tidak berhenti saat ijab kabul sudah sah, tapi merupakan proses sepanjang hidup. Ya, sepanjang hidup.

Satu lagi hal yang menarik dari pernikahan adalah kita harus memperbaiki pemikiran bahwa dengan menikah kita menjadi lengkap. Seringnya orang bilang bahwa pasangan kita adalah pelengkap dari ketidaksempurnaan kita dan jika kita lengkap hidup jadi bahagia. Pemikiran seperti itu ternyata bisa benar, bisa juga salah. Beberapa waktu yang lalu aku menyimak sebuah Tedx Talk yang sangat inspiratif dari seorang wanita yang berkali-kali menikah dan bercerai. Hingga di perceraiannya yang ketiga dia menyadari bahwa sebenarnya orang yang harus dia nikahi pertama kali adalah dirinya sendiri. Pernikahan tidak selalu membuat diri kita merasa lengkap, merasa utuh. Kita akan selalu merasa kecewa jika berharap bahwa pasangan kita (yang sebenarnya manusia yang tidak lengkap juga) untuk melengkapi diri kita. Itulah mengapa wanita itu terus dalam siklus menikah-cerai-menikah, karena dia tidak pernah menemukan bagian dirinya yang dia harapkan untuk dilengkapi dari diri suaminya. Hingga akhirnya dia sadar bahwa dirinya sendirilah yang bisa melengkapi itu.

Lalu untuk apa kita menikah kalau kita bisa melengkapi diri sendiri ? Bukankah dengan menikah kita juga punya potensi untuk memiliki kehidupan yang lebih buruk disbanding seorang single ?

Alhamdulillah, saya punya pedoman hidup namanya agama Islam. Islam mengajarkan bahwa pernikahan itu adalah suatu bentuk ibadah kepada Allah. Karena setiap hal yang baik dalam pernikahan mengandung pahala yang luar biasa besar sebagai bekal kita menuju surgaNya. Karena dengan pernikahan kita bisa menjaga kehormatan kita sebagai seorang perempuan/laki-laki. Karena dengan pernikahan kita bisa menghasilkan keturunan-keturunan yang mulia untuk memakmurkan bumi Allah. Karena dengan pernikahan, ujian hidup akan semakin ringan jika dilalui berdua dan saling mendukung karena Allah.

Aku juga sekarang paham, bahwa pernikahan tidak selamanya selalu menjanjikan kebahagiaan, berkaca dari hasil observasi kehidupan rumah tangga orang-orang di sekitar. Jadi bahagialah yang masih single!. Tapi, insya Allah disana terkandung berkah dan janji Allah yang luar biasa besar yang bisa kita raih dengan tetap ada ikhtiar-ikhtiar yang membersamai.

Oke, aku ingin menikah, tapi belum ada calon. Jawabannya kembali ke paragraf atas. Sudah sabar saja, menanti sambil berproses memantaskan diri. Hehehe. Siklus jawaban tentang pernikahan hanya akan berputar disitu saja. Yang belum menikah diberikan pesan keutamaan menikah, yang masing single diberikan pesan untuk bersabar, berproses memantaskan diri, dan bahwa pernikahan juga ada hal yang tidak membahagiakan. Inti dari semuanya adalah bersyukurlah dengan status kamu hari ini dan lakukan apa yang kamu bisa lakukan untuk hari ini. Tapi tetap selalu dalam jalan yang di ridhoi Allah.

Semua akan indah pada waktunya. Di saat hari itu datang, kamu pasti akan bersyukur bahwa Allah menyatukan kamu dan dia hari itu, bukan kemarin atau keesokannya. Yakin, rencana Allah selalu dan akan selalu indah. Dia yang Maha Pengatur segalanya, sutradara terhebat dalam hidup kita. Kita harus bersabar dan ikhlas dengan ketetapanNya.

Selamat memantaskan diri, single! Dan selamat berikhtiar menggapai keberkahan pernikahan, bagi yang sudah sah berpasangan. 🙂