September 2017: Bulan Baper

Hasil gambar untuk marriage islam

Entah kenapa bulan September ini banyak sekali yang akhirnya sah menggandeng pasangan hidupnya. Mulai dari saudara sepupu yang udah kayak best friend sendiri, temen-temen deket satu angkatan, bahkan artis idola yang lagi hits. Seneng banget melihat mereka akhirnya udah nggak pusing lagi mikirin “siapa jodoh gue?”. Tapi disisi lain, momen-momen ini juga bikin baper mereka yang masih “gak jelas” jodohnya, terutama mereka yang memilih menanti tanpa ditemani, termasuk diri sendiri. Setiap galau hal beginian pasti larinya ke ceramah-ceramah atau quotes-quotes tentang jomblo yang sebenarnya udah ratusan kali kita dengar, baca, dan sudah pahami. Tapi kita selalu melakukannya lagi dan lagi untuk memberikan diri kita motivasi dan ketenangan lagi dan lagi. Sebenarnya intinya sama, “sudah sabar saja, semua indah pada waktunya”, “isilah hari-hari menantimu dengan mempersiapkan dan memperbaiki diri (terutama untuk wanita)”. Tapi memang pesan-pesan itu tepat sekali. Tapi memang sangat sulit di praktekan. Itulah mengapa pesan-pesan tentang cinta selalu banyak dibaca, didengarkan, dan dibagikan. Karena banyak yang merasakan hal yang sama (Oke, paling tidak aku tidak sendirian).

Setiap orang berbeda-beda. Setiap orang menjalani hidup dengan jalan dan tingkat yang berbeda-beda. Ada yang lulus SMA sudah direstui menikah, ada yang harus tunggu lulus kuliah, ada juga yang sudah lulus kuliah harus tunggu dapat pekerjaan dan mandiri. Ada yang direstui dengan siapapun yang datang melamar, ada yang harus nunggu calonnya lulus kuliah, ada yang harus nunggu calonnya untuk diangkat jadi karyawan tetap. Setiap orang punya jalan berbeda-beda, jadi nggak masalah kan kalau menikahnya di usia yang berbeda-beda. Bukan berarti yang menikah duluan itu paling siap dan paling baik. Bukan berarti yang menikah belakangan itu nggak ada niat dan nggak pernah menyiapkan diri. Mereka memiliki syarat dan pilihan masing-masing.

Hal yang terpenting dan selalu jadi solusi dari semua kegalauan tentang menanti jodoh adalah menantilah sambil berproses untuk memantaskan diri. Pesan ini sangat benar, sudah bosan kita dengar dimana-mana, dan sayangnya sering di-iya-in aja. Ya, memang sangat berat. Kita diminta untuk meredam keinginan dan bekerja dalam ikhtiar. Bukankah manusia sukanya diberi tanpa berusaha ?. Mungkin meski kita tidak berusaha, jodoh akan tetap datang pada waktunya karena memang sudah ada dalam takdir kita. Tapi pasti ada bedanya, orang yang berusaha dan tidak berusaha. Entah dari karakteristik calon yang didapatkannya maupun kesiapannya dalam mengarungi bahtera rumah tangga dan segala ujiannya. Iya, rumah tangga itu penuh ujian. Bukan karena kita sudah sah dan hidup berpasangan lalu hidup kita bahagia sepanjang waktu dibandingkan hari-hari saat sendiri. Bahkan mungkin hari-hari kita semakin berat dan membosankan. Suka dan duka dalam pernikahan, semua itu ada dalam pilihan.

Dari berproses dalam mempersiapkan diri itu kita akan belajar dan terus belajar. Tidak hanya menyiapkan tentang materi (seperti yang banyak orang pikir dan lakukan), tapi juga menyiapkan ilmu, serta mindset. Menurutku, ilmu dan mindset itu satu tingkat lebih penting dari materi. Karena kedua hal itulah yang akan membawa kita mendapatkan pernikahan yang bahagia dan finish di surga Allah atau terperangkap dalam pernikahan yang hanya menghancurkan jiwa dan sisa hidup kita di dunia. Hal yang paling aku pegang dalam hidup adalah bahwa mindset adalah penentu apakah kita berpikir hidup kita bahagia atau tidak. Walaupun sudah menikah jika mindset kita masih negative, meski memiliki kehidupan sempurna jika dilihat orang lain, tapi kita tidak akan pernah merasa bahagia. Sebaliknya, seorang single yang memiliki mindset positif, meski dia belum berpasangan, hidupnya akan tetap bahagia baik dari sudut pandangnya maupun sudut pandang orang lain. Tapi kita juga perlu tahu, belajar dalam memantaskan diri itu tidak berhenti saat ijab kabul sudah sah, tapi merupakan proses sepanjang hidup. Ya, sepanjang hidup.

Satu lagi hal yang menarik dari pernikahan adalah kita harus memperbaiki pemikiran bahwa dengan menikah kita menjadi lengkap. Seringnya orang bilang bahwa pasangan kita adalah pelengkap dari ketidaksempurnaan kita dan jika kita lengkap hidup jadi bahagia. Pemikiran seperti itu ternyata bisa benar, bisa juga salah. Beberapa waktu yang lalu aku menyimak sebuah Tedx Talk yang sangat inspiratif dari seorang wanita yang berkali-kali menikah dan bercerai. Hingga di perceraiannya yang ketiga dia menyadari bahwa sebenarnya orang yang harus dia nikahi pertama kali adalah dirinya sendiri. Pernikahan tidak selalu membuat diri kita merasa lengkap, merasa utuh. Kita akan selalu merasa kecewa jika berharap bahwa pasangan kita (yang sebenarnya manusia yang tidak lengkap juga) untuk melengkapi diri kita. Itulah mengapa wanita itu terus dalam siklus menikah-cerai-menikah, karena dia tidak pernah menemukan bagian dirinya yang dia harapkan untuk dilengkapi dari diri suaminya. Hingga akhirnya dia sadar bahwa dirinya sendirilah yang bisa melengkapi itu.

Lalu untuk apa kita menikah kalau kita bisa melengkapi diri sendiri ? Bukankah dengan menikah kita juga punya potensi untuk memiliki kehidupan yang lebih buruk disbanding seorang single ?

Alhamdulillah, saya punya pedoman hidup namanya agama Islam. Islam mengajarkan bahwa pernikahan itu adalah suatu bentuk ibadah kepada Allah. Karena setiap hal yang baik dalam pernikahan mengandung pahala yang luar biasa besar sebagai bekal kita menuju surgaNya. Karena dengan pernikahan kita bisa menjaga kehormatan kita sebagai seorang perempuan/laki-laki. Karena dengan pernikahan kita bisa menghasilkan keturunan-keturunan yang mulia untuk memakmurkan bumi Allah. Karena dengan pernikahan, ujian hidup akan semakin ringan jika dilalui berdua dan saling mendukung karena Allah.

Aku juga sekarang paham, bahwa pernikahan tidak selamanya selalu menjanjikan kebahagiaan, berkaca dari hasil observasi kehidupan rumah tangga orang-orang di sekitar. Jadi bahagialah yang masih single!. Tapi, insya Allah disana terkandung berkah dan janji Allah yang luar biasa besar yang bisa kita raih dengan tetap ada ikhtiar-ikhtiar yang membersamai.

Oke, aku ingin menikah, tapi belum ada calon. Jawabannya kembali ke paragraf atas. Sudah sabar saja, menanti sambil berproses memantaskan diri. Hehehe. Siklus jawaban tentang pernikahan hanya akan berputar disitu saja. Yang belum menikah diberikan pesan keutamaan menikah, yang masing single diberikan pesan untuk bersabar, berproses memantaskan diri, dan bahwa pernikahan juga ada hal yang tidak membahagiakan. Inti dari semuanya adalah bersyukurlah dengan status kamu hari ini dan lakukan apa yang kamu bisa lakukan untuk hari ini. Tapi tetap selalu dalam jalan yang di ridhoi Allah.

Semua akan indah pada waktunya. Di saat hari itu datang, kamu pasti akan bersyukur bahwa Allah menyatukan kamu dan dia hari itu, bukan kemarin atau keesokannya. Yakin, rencana Allah selalu dan akan selalu indah. Dia yang Maha Pengatur segalanya, sutradara terhebat dalam hidup kita. Kita harus bersabar dan ikhlas dengan ketetapanNya.

Selamat memantaskan diri, single! Dan selamat berikhtiar menggapai keberkahan pernikahan, bagi yang sudah sah berpasangan. 🙂

 

 

Iklan

For Those Who Quiet, There Is Nothing Wrong With Us

Image result for QUIET

For those who quiet, there is nothing wrong with us. You and me are not an alien gang from space. Yes, we have a different personality than others in this world. We like to be quiet and be alone in this world that is so noisy. But, ours is a great personality. It is a gift from God that is special for us. There are many people out there who really admire who we are. We are a valuable human. We must start to be grateful for that.

We must start think and realize that we have our own strengths. We have our own way to contribute to this world. Just accept sincerely who we are and what kind of gift that the God gives us. Don’t lie to ourself. Everytime you need your own space and silence to recharge your battery or just make your complicated thoughts easy to handle. There is nothing wrong you. If you just enjoy sitting alone with your own thought in the crowded restaurant that you like, it is okay. If you prefer exploring and get inspire from the world through your phone. That is also great thing.

Get the knowledges and inspirations doesn’t mean we must push ourself hardly to become different. We still have our own way to reach what knowledges and inspirations that an extrovert can get. With our own way, of course. There is tech now that help us to communicate or exploring the world with own way. If we are not comfortable to connect with other face-to-face and speak directly, we still have chance to communicate with them through social media, email, or another platform that is comfort for you.

Don’t stretch yourself too hard. It’s okay, to go out from your comfort zone sometime. But dont ever lie to yourself what the most important things is. Even just sitting alone without thinking anything in the corner of the room or have the entire day-off inside your room doing what you like the most. Nothing wrong with that.

We have our own way. Our own strength. We can reach success with just who we really are. Dont be always envy with which those extroverts out there get. We have our own part, so are they. We complete each other, not compete or become superior/inferior than others. We are equal, complete each other. We can be a great team together if we accept who we really are and do our own job.

For those who quiet, you are a great person too. You are amazing and special to this world. You just have to follow your own path with your own way.

Image result for it's okay to be an introvert

-I am an introvert, melancholy, INFJ with intrapersonal intelligence. From now on, I decide to always grateful with who I am-

Enjoy Your Great Life, Single !

 Image result for marriage
Inilah tahun akhirku berkuliah. Pastilah aku sudah memikirkan tentang masa depan seperti apa yang aku inginkan. Termasuk tentang urusan menikah. Sepertinya tak ada satupun wanita di dunia ini yang tidak menjadikan menikah itu sebuah cita-cita yang wajib diraih (terutama yang hobi menonton drama romantis). Menikah merupakan salah satu dari berbagai tujuan hidup yang ingin dicapai. Imajinasi tentang keromantisan, kebersamaan, kasih sayang, dan hal-hal manis lainnya menjadikan menikah menjadi suatu hal yang memenuhi pikiran seorang wanita hampir setiap waktunya. Apalagi melihat teman-teman yang satu per satu sudah mengakhiri masa lajangnya. Foto-foto pernikahan mereka yang manis sekali dipenuhi gaun gemerlap dan senyuman manis kedua mempelai. Kau mungkin juga merasakan rasa iri dibandingkan ketulusan untuk ikut bahagia tentang pernikahan mereka. Terkadang ucapan selamat hanyalah basa-basi belaka.
Terus hal yang sering membuat makin kesal adalah saat keluargamu satu per satu menanyakan kapan menikah. Udah punya pacar belum? Awas nanti jadi perawan tua lho. Dan hal-hal lainnya yang mungkin bagi mereka itu obrolan sekedar basa-basi, tapi bisa jadi pengantar ke arah pemikiran depresi bagi orang-orang yang sebelumnya sudah memiliki pikiran akan ketidakmampuan diri. Apalagi melihat umur terus menerus menua dan wajah semakin mengkerut dari hari ke hari. (Mungkin) Hal seperti itu menjadikan banyak orang yang gencar berburu kekasih, kencan sana-sini, atau meneror para kekasihnya menyegerakan pernikahan. Dan membuat mereka terburu-buru mengambil keputusan untuk mengakhiri masa lajang.
Mungkin di satu sisi hal itu sangat baik, karena banyak orang yang akhirnya bisa melindungi diri dengan menikah maupun mengakhiri khalwat yang berhadiah dosa agar tidak terjadi terus-menerus. Tapi disisi lain, ini bisa menjadi suatu tumpukan masalah baru bagi mereka yang belum siap, terbuai imajinasi drama korea, atau alasan lainnya.
Seiring dengan bertambahnya usia, pemikiran lebih dewasa, wawasan lebih terbuka, aku menyadari bahwa menikah itu bukan hal yang mudah. Menikah bukan sekedar tidur ada yang nemenin, jalan-jalan ada yang nganterin, atau setiap hari ada yang nanyain kabar kita dan menyatakan rasa sayang. Menikah tampaknya lebih rumit. Memang aku tidak bisa bercerita banyak, karena belum mengalami. Tapi aku hanya melihat dan menafsirkan dari hasil observasi kehidupan yang terjadi di sekitarku. Menikah yang sebenarnya adalah tidak hanya menikahi seseorang yang kita cintai (suami/istri) tapi seluruh keluarganya dan kelebihan juga kekurangannya. Ya, kita juga menikahi keluarganya, yang kalau kita beruntung kita bisa mendapatkan mertua baik hati seperti peri dan adik/kakak ipar yang supportive. Tapi kalau tidak beruntung, itu bisa jadi masalah yang siap menambah koleksi masalah kita dan akhirnya menyeret kita lebih jauh dari gerbang hapinness land.
Menikah itu lebih ke komitmen untuk bersama seseorang seumur hidup kita. Benar, seumur hidup. Terkadang agak menyeramkan jika kita menyadarinya. Karena kita harus komitmen untuk setia dan berbakti pada satu orang untuk waktu yang sangaaaat lama. Kita harus menerima segala kekurangan dan kelebihannya dengan apa adanya. Mencintai dia seutuhnya. Tidak hanya satu atau dua tahun, tapi bisa berpuluh-puluh tahun, dengan kata lain menua bersama dia. Dan itu bisa jadi the sweetest thing ever, jika dilihat dari sudut pandang berbeda.
 
Tapi, bisakah kau bayangkan apa yang akan terjadi jika kita memilih orang yang salah ?
Seumur hidup kita, berpuluh-puluh tahun (kalau kita cukup setia atau terlalu tabah dengan cobaan hidup) bersama orang yang menjengkelkan. Dan kau harus sadari, hidup tidak akan selamanya dan selalu memberikan episode yang membahagiakan, bisa juga berubah menjadi drama yang menyedihkan dan menghancurkan hati. Dia yang dulu begitu perhatian, romantis, mengagumkan bisa berubah menjadi seorang yang benar-benar berbeda yang mungkin ingin kita lempar ke laut.
Jika begitu, apa mau bercerai? Hanya karena dia berubah? Sudah tidak saling mencintai?. Lalu, apa kata orang?. Apakah kita mau jadi orang yang punya sejarah menikah dan bercerai berkali-kali ?. Itu adalah masa depan terburuk yang bisa kita fikirkan saat ini.
Maka dari itu, aku sangat-sangat menyadari bahwa menikah adalah suatu tahapan yang besar yang juga penuh pengorbanan. Seorang wanita yang menikah akan menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mengurus suami, rumah tangga, dan sebagainya. Mereka mungkin menyerahkan impian-impian besar yang dulu ingin mereka raih (tapi ada juga yang bisa meraihnya meski sudah menikah, ini berbeda cerita). Mengorbankan waktu untuk melakukan kesenangan mereka sendiri, bahkan untuk diam tenang barang sejenak.
Maka dari itu, berhentilah menggalau, melamunkan seorang pangeran datang dengan kereta kuda terus-menerus, menyalahkan diri karena tak laku-laku. Bukan itu dan tidak seharusnya seperti itu, wahai para lajang. Nikmatilah kebebasanmu hari ini dengan sepuas-puasnya. Kamu bisa melakukan apapun yang kamu sukai.
Be free, do things you love the most! Improve yourself, run into your dream. Stop worrying!
Rasakan kebebasanmu dan manfaatkan dengan sebaik yang kamu bisa sebelum kamu menjadikannya sebagai prioritas kedua, mau tidak mau setelah kamu memutuskan berkeluarga. Karena saat berkeluarga semua “aku” dan “kamu” sudah menjadi “kita”. Dan kamu harus berkompromi dengan semua itu.
Tidak perlu iri dengan mereka yang sudah menikah. Kamu juga bisa bahagia dengan caramu sendiri, sebagai seorang lajang. Karena hal yang kita semua cari dalam hidup adalah kebahagiaan, bukan status. Memilih pasangan bukan hal yang harus dilakukan buru-buru. Semua perlu dipertimbangkan matang-matang dan tidak hanya karena gejolak emosi sesaat dan bukan tentang masa kini saja. Lebih baik terlambat tapi kamu mendapat pilihan yang terbaik dan kamu sudah siap, daripada terburu-buru tapi menderita seumur hidup.
Kebahagiaan itu berasal dari pemikiran, bukan dari punya/tidak punya pasangan hidup.
Enjoy your life, single !
Here, great videos to watch to help you clear your mind about relationship
To all the single ladies – you’re fine : Terri Hilmey at TEDxBuffaloWomen
How To Stop Feeling Lacking and Worried About Being Single (Stop Feeling Lonely)
How To Deal With Loneliness – Never Feel Lonely Again!

Talk about being a leader

Selama hidup, kita punya tujuan yang ingin dicapai. Tujuan tak akan sukses diraih hanya dengan mengandalkan kemampuan diri sendiri saja. Kita butuh orang lain untuk mencapai tujuan kita karena setiap orang dilahirkan dengan kemampuan yang unik dan berbeda-beda. Kita harus kerja sama dengan orang lain agar bisa mengisi kekurangan kita. Jadi, kita butuh suatu tim yang saling kerja sama mencapai tujuan kita.

Namun, kerja dalam tim bukan hal yang mudah. Dalam tim,seringnya  kita diharuskan kerja sama dengan orang yang berbeda-beda, bahkan terkadang memiliki kepribadian yang bertolak belakang dengan kita. Kepribadian dan pemikiran yang berbeda antara satu orang dengan orang lainnya jadi suatu tantangan yang kadang jadi batu sandungan kita mencapai tujuan. Sakit hati, stres, pesimis, putus asa terkadang muncul akibat dari konflik dari perbedaan kepribadian itu. Hal itulah yang sering buat kita sebagai pemimpin cenderung memilih untuk membentuk tim dengan orang-orang yang “serupa dengan kita” karena takut akan terjadinya konflik akibat perbedaan kepribadian itu. Ya, dengan kata lain, kita memilih memimpin di zona nyaman.

Tapi apakah dengan memimpin di “zona nyaman” akan menjadikan kita pemimpin yang handal ?

Jawabannya tidak.

Memimpin orang-orang yang “serupa dengan kita” tak akan bisa meningkatkan kemampuan memimpin kita. Kita tak akan punya pengalaman dan kemampuan untuk mengerti dan memahami orang lain dengan kepribadian yang berbeda, mengesampingkan ego diri sendiri demi mencapai tujuan, dan kemampuan berkomunikasi yang baik dengan orang lain. Selain itu, kita juga tak akan belajar menyelesaikan konflik yang muncul dalam tim dan cara menghadapi orang dengan kepribadian tertentu. Jadi, kita harus berani memimpin di luar “zona nyaman” kita jika ingin terus mengasah kemampuan kepemimpinan kita dan menjadi pemimpin yang handal.

Selain berani memimpin di luar “zona nyaman” kita juga harus menambah pengalaman kita dalam memimpin suatu tim. Terkadang kegagalan atau konflik saat memimpin suatu tim membuat kita pesimis dan tak mau lagi menjadi pemimpin. Menurutku, Itu adalah suatu keputusan yang salah. Berbagai pengalaman memimpin akan melatih kita untuk menyempurnakan kemampuan kepemimpinan kita. Kita akan diberi kesempatan untuk terus belajar dan memperbaiki diri dari kesalahan yang pernah kita buat di proses kepemimpinan sebelumnya. Jadi, semakin banyak pengalaman kita maka semakin sempurnalah kemampuan kita.

Jadi, wahai pemimpin yang sedang dalam proses belajar memimpin, jangan pernah menyerah dengan konflik yang ada dalam tim mu. Fokuslah pada tujuan yang ingin kau capai. Jangan jadikan kegagalan memimpin sebelumnya menghentikan langkahmu untuk belajar menjadi pemimpin yang handal. Ingatlah bahwa semua adalah proses belajar yang akan membuat kita menjadi lebih baik lagi 🙂

#Thinkpositive

(Sedang dipenuhi pikiran positif)

Jangan jadikan tugas-tugas ini sebagai suatu beban yang harus kamu lewati satu per satu untuk bisa mencapai cita-cita. Tapi jadikanlah ini suatu arahan yang diberikan oleh para guru agar kita mendapatkan cita-cita/tujuan kita. Arahan yang membuat kita di jalur yang benar dan tidak menyimpang dari tujuan 🙂

Di sini aku sendiri.

Semua orang memaksakan berlari kencang

Aku di sini sendiri, berjalan lambat dan semakin melambat

Sebenarnya lelah hidup seperti ini

Dipaksa berlari kencang tapi kaki belum sempurna, mata belum melihat tempat tujuan

Sebenarnya lelah hidup seperti ini

Satu rumput dicabut, muncul lagi 1000 rumput baru yang harus dicabut

Tak sempat menghela napas panjang

Sebenarnya lelah hidup seperti ini

Tapi tak ada lagi jalan keluar dari semua ini

Semua ini sudah bukan lagi hiburan ataupun kesenangan seperti awalnya

Kudapati diri ini seperti mesin yang harus terus bekerja tanpa henti