Movie Quotes : Frozen (2013)

57626-160613_1465794713056

Film Frozen memang lebih terkenal sebagai film yang popular dikalangan anak-anak. Entah apa yang membuat mereka tertarik. Mungkin keindahan visualnya, soundtracknya yang asik, fantasi tentang kerajaan, fantasi tentang cinta putri dan pangeran. Entahlah. Ketika melihat film ini pertama kali, mungkin saat film ini rilis dan popular, aku tidak terlalu tertarik. Menurutku saat itu, film seperti ini hanya fantasi, omong kosong, dan hanya untuk anak-anak yang belum tahu banyak tentang realita. Aku melihatnya hanya untuk sekadar tahu. “Ohh, ini toh frozen.”

Tapi ketika aku melihat film ini untuk kedua kalinya hari ini (4 tahun kemudian). Aku benar-benar jatuh hati, kagum, dan menyadari bahwa film ini begitu menginspirasi. Memang, selama 4 tahun ini banyak hal yang terjadi dan aku pelajari tentang hidup. Dan aku mulai melihat berbagai hal lebih dalam. Dan aku melihat film ini tidak hanya sekadar film anak-anak dengan visual unyu-unyu, jalan cerita penuh fantasi, atau soundtrack yang popular. Film ini membawa pesan kehidupan yang lebih besar. Dan menurutku film ini bukan untuk anak-anak. Tapi untuk mereka yang berusia remaja-dewasa muda.

Film ini bercerita tentang inner-struggle yang dialami Elsa tentang kekuatan yang dimilikinya. Bagaimana dia berusaha menyembunyikan kekuatan (perbedaan) yang dimilikinya dari orang-orang karena menganggap itu kutukan yang bisa menyakiti orang lain. Padahal disisi lain, kekuatan (perbedaan) yang dimilikinya juga punya kekuatan positif yang luar biasa. Atau tentang kebebasan yang dirasakan Elsa saat dia bisa menggunakan kekuatannya tanpa mempermasalahkan tanggapan orang lain. Dia juga bahkan tak peduli harus hidup terasing, asal dia bisa bebas menggunakan kekuatannya tanpa memperdulikan tanggapan orang lain.

Selain itu, film ini juga bercerita tentang kesedihan dan kesepian Anna karena merasa diabaikan tanpa sebuah alasan. Atau tentang dirinya yang mencintai kakaknya Anna dan rela mengorbankan dirinya untuk Anna. Atau tentang kecerobohannya dalam memilih Hans sebagai cinta sejatinya, padahal baru berkenalan.

Banyak sekali pesan menginspirasi yang disampaikan melalui film Frozen ini. Favoritku adalah “An act of true love will thaw a frozen heart” 🙂

***

Ada beberapa quotes inspiratif dan menarik yang aku tangkap difilm ini, here they are ! (Aku menyalinnya beberapa dari transcripts.wikia.com/wiki/Frozen)

frozen-let-it-go-xlarge_trans_nvbqzqnjv4bqmknvueiqytpagctnshjkeaxxjsbcpuvhliqapqdi2do

Ice Harvesters:

Beautiful! Powerful! Dangerous! Cold! Ice has a magic can’t be controlled

Grand Pabbie:

You are lucky it wasn’t her heart. The heart is not so easily changed, but the head can be persuaded.

Listen to me, Elsa. Your power will only grow. There is beauty in it. But also great danger. You must learn to control it. Fear will be your enemy.

King:

Getting upset only makes it worse. Calm down.

Elsa:

You can’t marry a man you just met.

Kristoff:

Hang on! You mean to tell me you got engaged to someone you just met that day?! Didn’t your parents ever warn you about strangers? Have you had a meal with him yet? What if you hate the way he eats? What if you hate the way he picks his nose? And eats it.

Trolls:

His isolation is confirmation of his desperation for healing hugs.

Bulda:

We aren’t saying you can change him cause people don’t really change. We’re only saying that love’s a force that’s powerful and strange. People make bad choices if they’re mad or scared or stressed. But throw a little love their way. Throw a little love their way and you’ll bring out their best! True love brings out the best!

Trolls:

We need each other to raise us up and round us out. Everyone’s a bit of a fixer upper, but when push comes to shove. The only fixer upper fixer that can fix a fixer upper is… True, true, true, true, love. Love, love, love, true love.

Grand Pabbie:

If it was her head that would be easy, but only an act of true love can thaw a frozen heart

Hans:

You were so desperate for love, you were willing to marry me, just like that.

Anna:

I don’t even know what love is.

Olaf:

That’s okay, I do. Love is putting someone else’s needs before yours.

An act of true love will thaw a frozen heart

Iklan

Sibuk Mengabadikan Momen, Tapi Lupa Menikmatinya

gaya-selfie-norak1Pernahkah kamu jauh-jauh datang ke sebuah tempat wisata dan akhirnya aktivitas utama yang kamu lakukan hanyalah selfie ria, memotret sana-sini, dan melihat melalui mata kamera ? Aku sangat sering seperti itu dan kulihat juga semakin banyak orang melakukannya.

Adanya sosial media dan semakin mudahnya untuk memotret gambar bisa menjadi suatu karunia, tapi juga bisa jadi bencana. Ketika berada di tempat-tempat indah yang jadi obyek wisata, kita terlau fokus mengabadikan momen, tapi lupa untuk menikmatinya saat itu juga. Kita lebih sibuk berselfie ria, banyak berfoto agar banyak foto bagus untuk dipajang di postingan instagram atau facebook. Sibuk mengatur-atur gaya biar fotonya keren dan pas cantiknya. Pusing sekali melihat-lihat hasil jepretan, memilih-milih mana yang paling cantik atau candidnya paling natural, lalu sibuk upload ke sosmed, pusing bikin caption, nunggu-nunggu jumlah like, dan sibuk meladeni komen orang-orang di sosmed. Semoga bukan aku sendirian yang aneh disini :P.

IMG20170726140846

Kita abai dengan sekitar kita. Kita abai dengan gagahnya gunung yang menjulang dengan selimut hijaunya, abai terhadap gumpalan-gumpalan awan yang bersatu membuat langit yang biru tampak ramai, abai terhadap segarnya udara gunung yang memasuki paru-paru kita, abai dengan perahu yang nampak jauh dari pantai hingga seolah mengapung di langit, abai terhadap ombak yang datang dan pergi secara berpola dan menggalaukan kerikil pantai (mau ikut pergi bersama ombak atau tetap tinggal), bahkan abai terhadap begitu indahnya paduan warna bulu burung yang ada di kebun binatang.

Kita sibuk berfoto bersama mereka semua, mengabadikan momen saat itu, tapi tidak benar-benar menikmatinya secara mendalam. Mungkin dalam beberapa kesempatan kita mampu menikmatinya dan berkata “Ihh, keren banget. Kok bisa gitu ya.” Lalu beberapa detik kemudian kita langsung bilang “Yuk, foto disini bagus. Wah beneran bagus kan. Kamu cantik deh di foto itu.” Lalu kita sibuk dengan proses upload ke sosmed dan mengabaikan sekitar (lagi).

Memang sulit sekali untuk tidak melakukan hal itu. Aku pun begitu. Rasanya tidak mau melewatkan kesempatan berwisata ini tanpa membawa pulang foto kenangan yang bagus. Apalagi jika waktu kita ditempat wisata itu terbatas. Boro-boro menikmati, kita buru-buru mengelilingi tempat wisata itu dan tidak melewatkan sejengkalpun foto di spot-spot insatgramable disana. Rasanya tidak punya waktu memperhatikan perpaduan warna bulu burung yang sangat indah dan membentuk harmoni, atau memperhatikan kecilnya sebuah kota dari atas gunung.

Kita terlalu berfokus pada “mengabadikan momen” dan lupa tujuan utama berlibur dan bersilahturahmi dengan alam. Kita lupa untuk menikmatinya, bersenang-senang dengannya, membiarkan alam membantu tubuh kita merasa segar, melepaskan kejenuhan dan kekhawatiran darri benak, dan mengingatkan diri kita betapa luar biasa Sang Penciptanya. Foto, selfie, sosial media, mengalihkan kita dari apa tujuan utama yang seharusnya kita capai saat berada disana. Kita jadi tidak mendapatkan manfaat yang maksimal dari berlibur.

Karena aku pernah merasakan betapa luar biasa “magical” nya menikmati alam. Aku kini mulai belajar untuk menikmati sekitar saat sedang berlibur. Foto-foto, selfie tetap. Tapi aku memberikan waktu pada diriku untuk lepas dari semua itu (hp, sosmed) dan hanya menikmati momen itu, memperhatikan detail-detail yang indah, dan memejamkan mata sejenak untuk menikmati segarnya udara yang menerpa tubuh. Mengagumi betapa hebatnya yang menciptakan semua itu.

Satu lagi hal yang bisa dilakukan saat ditempat wisata alam yang bisa memberikan pengalaman magical adalah cobalah dengarkan ayat Al-Qur’an menggunakan earphone lalu kamu nikmati keindahan alam disekelilingmu. Sesekali pejamkan mata dan agungkan betapa luar biasanya Dia. Aku pernah mencobanya dan pengalaman itu luar biasa memorable dan relaxing.

Jangan lupa berlibur. Silahkan mengabadikan momen, tapi jangan sampai terlupa untuk menikmatinyanya. Saat itu juga 🙂

Selama masih hidup di dunia, tidak akan ada kesenangan yang kekal

IMG20170807172046

Beberapa waktu yang lalu aku diberikan kesempatan untuk berlibur beberapa hari ke luar kota. Aku mengunjungi adikku yang berkuliah disana dan mengajaknya menjelajahi tempat-tempat wisata yang ada disana. Sungguh sangat bersemangat rasanya. Karena akhirnya benar-benar punya kesempatan untuk “benar-benar berlibur”. Akhirnya aku bisa berlibur sepuas-puasnya. Bebas kemanapun mau pergi. Tidak ada jadwal ketat, tidak perlu buru-buru, tidak perlu tunggu-tungguan rombongan, tidak perlu malu untuk selfie dan ambil gambar sepuas-puasnya, tidak perlu “nggak enak hati” kalo mau minta difotoin. Tidak perlu mabuk kendaraan, tidak perlu terjebak macet, tidak perlu bingung naik apa untuk pindah ke satu tempat ke tempat lain. Rasanya bebas sekali liburan kali ini. Satu-satunya yang membatasi hanyalah ketersediaan uang dan cuaca :P. Aku merasa sangat-sangat senang selama disana.

Ada satu momen puncak dimana aku benar-benar merasakan efek “magical” dari yang namanya berlibur dan menikmati alam yakni ketika berkunjung ke wisata coban (air terjun). Udara yang sangat sejuk, pepohonan yang masih hijau dan rimbun, jalan mulus, pemandangan kota dari atas gunung. Air terjun yang begitu indah luar biasa, hempasan angin dari turunnya aliran air yang begitu menyejukan, sungai berbatu yang masih jernih dan sangat dingin airnya. Saat itu aku benar-benar “ngeh” rasanya relax ketika liburan. Apalagi saat berada disana kita punya ide untuk menikmati keindahan air terjun sambil pasang earphone dan putar surat Al-Qur’an. Kind of magical experience ! Luar biasa nikmat dan so relaxing.

Segala kepenatan hilang. Lelah saat berkendara tidak lagi ada rasanya. Kekhawatiran tentang masa depan hidup tidak terbesit sedetikpun. Bahkan untuk shalat rawatib qabliyah ba’diyah dhuhur yang biasanya paling malas dan lelah sekali karena rakaatnya banyak sekali, untuk kali ini malah rasanya nikmat sekali dan tidak terasa lelahnya. Suasana hati benar-benar senang, ceria, relax, dan penuh hal positif. Rasanya tidak ingin merusaknya. Ingin mempertahankannya selama mungkin, paling tidak sampai pulang ke penginapan.

Tapi, seberapapun usaha kita, suasana hati yang buruk akan datang lagi. Tiba-tiba datang rasa lelah karena berjalan cukup jauh. Datang cuaca mendung yang membuat kita harus segera pulang. Datang kekhawatiran akan kehujanan saat pulang dan memang benar akhirnya kami terjebak hujan deras dalam perjalanan pulang. Kami harus berteduh ditempat seadanya karena lupa tidak bawa jas hujan dan jalanan terlalu licin untuk tetap berkendara. Perut lapar, baju basah, kaos kaki basah, lihat foto ternyata hanya sedikit yang bagus. Suasana hati yang buruk mulai merasuk ke hati. Kami mulai diam, berkutat dengan pikiran masing-masing. Aku berusaha untuk tetap semangat, mengingat momen bahagiaku tadi, berusaha mencegah bad mood menguasaiku. Tapi tetap saja tidak bisa. Seakan rasanya kejadian super menyenangkan tadi tidak pernah terjadi. Suasana hatiku masih sama seperti saat sebelum berangkat liburan. Lalu terpikir, “Kalau balik kayak gini lagi, ngapain liburan ?”.

Hujan reda, kami menuju kota dan mencari tempat makan. Entah kenapa aku lama diam. Mungkin kelelahan. Aku malas ngobrol. Rasanya suasan hati dan raut wajahku masih merefleksikan cuaca mendung yang sebenarnya sudah mulai berganti cerah berangsur-angsur. Adikku melihat aku melamun dengan pandangan kosong, diam, malas diajak bicara. Ketika ditanya “kamu kenapa?”, aku saja tidak tahu jawabannya. Bad mood aja dan nggak tau alasannya. Lalu, entah dapat ilham dari mana, tiba-tiba adikku bilang yang intinya

“Di dunia ini gak ada kesenangan yang kekal. Kesenangan yang kekal cuma di akhirat”.

Aku terperanjat dengan perkataan adikku. Pertama, aku takjub, kok bisa dia bilang sesuatu semacam itu (tiba-tiba jadi bijak). Kedua, bener juga apa yang dibilang dan mungkin itu jawaban yang aku butuhkan (secara tidak sadar).

Adikku ini memang sama introvert seperti aku, tapi dia tidak berpikir mendalam sepertiku. Dia sangat santai, slow, dan simple saat menghadapi sesuatu. Aku iri sih dengan dia. Karena aku tipe orang pemikir yang memikirkan mendalam tentang berbagai hal yang bikin nyaris merasakan depresi.

Kembali ke topik pembicaraan.

Apa yang adiku katakan padaku seolah menjadi sebuah insight yang membantuku memahami firman Allah tentang ketidakkekalan kehidupan dunia, termasuk tidak kekalnya kesenangan dunia. Selama ini aku belum pernah mendapatkan satu kejadian yang merefleksikan hal itu. Aku sering mendengar ayat tentang kehidupan dan kesenangan di surgalah yang kekal. Tapi belum pernah sekalipun benar-benar memahaminya. Tapi kali ini aku rasa aku bisa sedikit memahaminya. Benar-benar merasa “relate” dengan ayat itu.

Aku pernah mendengar ayat Al-Qur’an yang menceritakan bahwa nantinya saat di surga, manusia akan merasakan kesenangan dan kebahagiaan yang kekal. Mereka tidak merasa lelah, lapar, haus, dsb. Itulah perbedaan kehidupan dunia dan akhirat. Aku lalu mulai menghubungkan ayat ini dengan kejadian-kejadian yang pernah aku alami dan observasi. Aku bekesimpulan sendiri bahwa :

Selama masih hidup sebagai manusia di dunia, kesenangan atau kebahagiaan kita tidak akan pernah kekal. Senang, susah, bahagia, sedih akan datang silih berganti. Selama masih hidup di dunia, tidak ada yang namanya senang atau bahagia yang kekal terus-menerus.

Seperti yang aku rasakan dalam liburanku ini. Meski sangat sangat senang, beberapa menit kemudian kesenangan itu akan hilang, hidup terasa normal kembali. Seolah kesenangan tadi tidak pernah terjadi. Pemahaman ini juga memberikanku pemahaman lain yaitu jangan pernah mengorbankan segalanya untuk kesenangan dunia. Karena dia tidak kekal dan ada saatnya dia bahkan tidak terasa seperti pernah terjadi. Sebuah peringatan keras bagiku terutama tentang “melakukan hal-hal yang haram oleh agama”. Karena mungkin dia memberikan kita kesenangan. Kesenangan luar biasa. Tapi, ingatlah kesenangan itu akan hilang dalam sekejap. Dan hanya menyisakan dosa dan penyesalan mungkin hingga seumur hidup.

Pemahaman lain yang aku dapatkan tentang “kehidupan dunia yang tidak kekal” adalah meski senang dan bahagia akan berganti juga dengan sedih atau susah. Jangan lupa, rumus itu juga berlaku kebalikannya.

Yakinlah, kesusahan atau kesedihan juga tidak kekal di dunia. Dia akan berganti senang atau bahagia. Meski hanya sedetik gelak tawa dari seorang teman yang melontarkan lelucon saat kita sedih.

Jadi begitulah tambahan pemahamanku tentang kehidupan dunia ini. Entah sepenuhnya benar, atau ada yang benar dan ada yang salah dari pemahamanku itu, hanya Allah yang tahu. Tapi aku tak akan berhenti untuk berusaha memahami kehidupan lebih baik lagi.

Janji

Jangan pernah sekalipun ucap janji
Karena kau tak akan pernah mampu
Menjamin untuk tepatinya

Kau bukan Tuhan
Kau tak mampu atur semesta
Mengajaknya berkonspirasi untuk mewujudkannya

Kau hanya akan berakhir menyakiti
Mengecewakan hati yang telah menumpuk harap
Pada janji yang kau sendiri meragukannya

Jangan pernah sekalipun berjanji

***
Jangan pernah terima dan percaya janji
Dari manusia yang sama-sama lemah
Tak punya daya upaya

Hatinya bisa berubah
Kata-katanya hanya bualan penuh ragu
Bahkan takdirnya bukan dia yang goreskan

Jangan pernah gantungkan harapan padanya
Dia tak mampu menanggungnya
Itulah mengapa dia juga tak layak

Wahai yang Sedang Dirundung Cinta

large

Untukmu
Wahai yang sedang dirundung cinta
Kau masih hamba Tuhan
Hidupmu masih diatur oleh garis takdirNya

Untukmu
Wahai yang sedang dirundung cinta
Janganlah kau membual
Menyebar-nyebarkan dusta

Seolah mampu menjaga rasa
Seolah kau yang menggenggam pena takdir
Mampu menggariskan takdirmu dan takdirnya

Untukmu
Wahai yang sedang dirundung cinta
Jangan membual mampu terus mencinta
Jangan membual mampu terus bersama

Rasa adalah ciptaanNya
Timbul tenggelam dengan kehendakNya
Secuilpun tak punya kau daya dan upaya untuk mengaturnya

Untukmu
Wahai yang sedang dirundung cinta
Berhenti katakan kan cinta selamanya
Berhenti katakan hatimu hanya satu miliknya

Hati mampu berpaling
Rasa mampu berubah

Untukmu
Wahai yang sedang dirundung cinta
Jangan
Janganlah kau membual
Menyebar-nyebarkan dusta
Seolah mampu menjaga rasa

Terkecoh Bualan Rasa

635830697392884690-1711838185_fall-in-love-imgopt1000x70

Rasa hanya mampu penuhi hati
Ia tak mampu penuhi bumi

Rasa kan menyerah pecah berkeping-keping
Ketika logika menghempas membawa realita

Rasa hanya mampu penuhi hati
Menerbangkanmu dalam imaji
Ketika nyatanya
Kaki masih terpatri didasar bumi

Rasa ciptakan ilusi
Membual menjadikanmu penggenggam takdir
Pengatur Sang Maha Pengatur

Kenyataannya
Kau bahkan tak mampu menjaga rasa
Apalagi menduga masa depan

Rasa kadang mengecoh
Membual
Mengasingkan diri ini
Jauh dari dasar bumi

Ketika sadar hadir
Kau kan terbahak-bahak
Karena telah dijebak rasa

Melihat masa yang terlewat
Menertawai diri yang penuh konyol
Karena ditenggelamkan rasa

 

Jangan, jangan tergesa-gesa

4copy

Jatuh cinta hanya butuh sekejap mata
Tapi untuk bersama selamanya ?
Butuh lebih banyak logika dibanding rasa

Jangan
Janganlah kau tergesa-gesa
Menyimpan hati hanya pada satu hati

Masa depan tak ada yang mampu menduga
Rasa tak ada jaminan kan terjaga

Jangan
Janganlah kau tergesa-gesa
Bibir mengucap kan setia sepanjang masa

Ketika datang rasa
Logika kan terhempas jauh dari hayat
Ketika rasa pergi
Logika kan datang dengan membawa kabar duka

Jangan
Janganlah kau tergesa-gesa
Porak poranda hanya karena rasa

Rasa kadang mengacau
Membual menjadikanmu Tuhan yang mampu mengatur kehidupan

Jangan
Janganlah kau tergesa-gesa
Mencinta terlalu dalam
Berjanji sehidup semati

Jangan
Janganlah kau tergesa-gesa

Karena jatuh cinta hanya butuh sekejap mata
Hati mudah berpaling pada yang lebih

Rasa kan menyerah pecah berkeping-keping
Ketika logika menghempas dengan membawa realita